Saat Jepang mengambil alih kekuasaan Hindia Belanda pada bulan Maret 1942, kehidupan orang-orang Eropa di Batavia berubah drastis. Semua laki-laki keturunan Eropa yang berumur di atas 12 tahun dikirim ke kamp-kamp tawanan perang, meninggalkan perempuan dan anak-anak mereka di rumah.
Adegan Mandi di Belakang Hotel Bellevue

Pemandangan dari belakang Hotel Bellevue di Buitenzorg (Foto Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT))
Bogor tempo doeloe memang menyimpan fakta yang begitu menarik. Kota yang dinamai Buitenzorg oleh orang Belanda itu tak cuma memiliki Kebun Raya, tapi juga menjadi kediaman sang gubernur jenderal. Letaknya yang dinaungi Gunung Salak membuat kota itu berhawa sejuk dan seringkali disiram hujan. Maka wajar jika Buitenzorg pun menjadi tempat favorit untuk berakhir pekan bagi orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia yang panas.
Plesiran di Batavia
Welrevreden adalah kota baru di pinggiran Batavia yang dibangun oleh penguasa Belanda pada pertengahan abad ke-17 sebagai “tempat berteduh”. Di kawasan ini banyak dibangun rumah-rumah peristirahatan dan taman-taman besar, seperti Waterloo Plein (kini Lapangan Banteng), Wilhelmina Park (kini Masjid Istiqlal) dan Koningsplein (kawasan Monas). Lingkungannya yang lebih sehat ketimbang daerah bisnis dan pemerintahan menjadikannya tempat favorit bagi turis-turis asing yang berkunjung ke Batavia.
Mengenang Hotel du Chemin, Buitenzorg

Hotel du Chemin de Fer (1857-1880) yang kini jadi Mapolres Bogor (Foto koleksi: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute)
Dulu di Bogor, ketika masih bernama Buitenzorg, terdapat tiga hotel yang cukup terkenal: Hotel Bellevue, Hotel du Chemin de Fer dan Hotel Dibbets. Para petinggi kolonial Belanda yang tinggal di Batavia atau turis-turis asing yang sedang menikmati keindahan kota hujan itu sering menginap di ketiga hotel tersebut.
Agen Perjalanan Tempo Doeloe
Saat berselancar di dunia maya, saya menemukan sebuah buku panduan wisata yang diterbitkan di Surabaya pada tahun 1918. Buku yang diberi judul “See Java” ini dikeluarkan secara khusus oleh Michael’s Java Touring Co., sebuah agen perjalanan, buat turis-turis asing yang ingin menikmati keindahan pulau Jawa ketika itu.




