Stasiun Bogor suatu ketika…

Peron stasiun Bogor 1904 (Foto koleksi Tropen Museum, Belanda)

Foto tua suasana peron Stasiun Bogor yang dibuat sekitar Juni 1904. Bentuk peron dan struktur atapnya tidak jauh berbeda dengan yang sekarang.

Suasana Stasiun Bogor Oktober 2011 (koleksi tempodoeloe.com)

W. Basil Worsfold, pria berkebangsaan Inggris yang pernah mengunjungi Buitenzorg (nama kota Bogor di zaman kolonial), menuliskan sepenggal pengalamannya saat bepergian ke Ciwangi di Soekaboemi dengan kereta api.

“Soekaboemi hanya berjarak 30 atau 40 mil, tapi aku tinggalkan Buitenzorg pada pukul 8 pagi untuk menghindari ketidaknyamanan bepergian di siang hari. Tak usah dikatakan lagi bahwa kereta di negeri tropis ini tak secepat kereta Flying Dutchman atau the Scotch express. Namun aku lihat gerbongnya cukup nyaman, dibuat dengan gaya Amerika dan dilengkapi tirai untuk menahan sinar matahari dan mengalirkan udara.

“Kecuali kepala stasiun, semua petugasnya adalah orang Tionghoa dan Jawa. Penjaga pemeriksa karcis mengenakan seragam dan topi, tapi di balik pakaian ala Eropa itu dia masih memakai kostum lokalnya.

“Dua dari empat gerbongnya dikhususkan buat orang Eropa, satu gerbong buat orang Tionghoa dan sisanya buat penduduk lokal.

“Saat kereta mulai bergerak, aku baru sadar telah melakukan kesalahan dengan membeli tiket kelas satu. Gerbong kelas ini belum dibersihkan dan seorang kuli datang dan menggangguku dengan kemocengnya. Dia membuat debu beterbangan sehingga aku terpaksa menyingkir sejenak. Ketika kembali, kulihat gerbongnya sudah bersih tapi debunya pindah ke barang bawaanku.

“Di gerbong kelas dua, duduk sejumlah pejabat dan ahli tanaman Belanda bersama para istri, dan aku berada di gerbong kelas satu sendirian untuk menikmati (?) segala kemewahan ini. Kalau saja ada orang lain, mungkin aku bisa menanyakan apakah aku harus turun di stasiun Soekaboemi untuk menuju perkebunan H– di Tji Wangi

“Karena sendirian, aku bisa membuka-tutup jendela seenaknya. Aku bebas menikmati pemandangan gunung, sawah dan kebun, termasuk saat kereta berhenti cukup lama di stasiun-stasiun. Kerumunan orang-orang pribumi menarik juga untuk dilihat. Belum pernah kusaksikan di mana pun, bahkan di Jawa ini, pelangi warna-warni dari pakaian katun yang mereka kenakan. Topi anyaman di kepala mereka memiliki beragam bentuk, ada yang mirip payung, ada juga yang seperti corong.

“A Visit to Java” (1893), halaman 137-138, W. Basil Worsfold.

(Foto: Koleksi Tropen Museum, Belanda)

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://tempodoeloe.com/2011/08/09/stasiun-bogor-suatu-ketika/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. salam.
    saya berniat mengutip beberapa informasi untuk kepentingan naskah novel yang tengah saya tulis. apakah saya diizinkan? terimakasih

    • silakan. trims sudah berkunjung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: