Naik kereta api, tut-tut-tut…

Stasiun Tanggung

Litografi lukisan karya Josias Cornelis Rappard yang menggambarkan stasiun Tanggung di Grobogan, Jawa Tengah

Sejarah transportasi kereta api di Indonesia mungkin termasuk yang tertua di dunia.  Pada tahun 1864, pemerintah kolonial Hindia Belanda sudah membangun lintasan rel dari desa Kemijen (Semarang) ke Tanggung (Grobogan), meski di Inggris kereta api sudah digunakan sebagai alat transportasi sejak tahun 1830.  Dalam konteks alih teknologi, selang waktu 34 tahun termasuk cepat pada waktu itu, mengingat jauhnya jarak dunia Barat dan Timur, serta terbatasnya moda angkutan antar benua yang hanya mengandalkan kapal laut.

Perkembangan transportasi ini begitu pesat.  Jika pada tahun 1864 panjang rel yang dibangun baru 25 km, pada tahun 1900 lintasannya sudah mencapai 3.338 km, bertambah 133 kali lipat dalam kurun waktu 36 tahun! Suatu pencapaian luar biasa yang pernah ditorehkan bangsa Belanda di negeri jajahannya.

Bepergian dengan kereta api tempo doeloe memberi kesan tersendiri bagi mereka yang pernah merasakannya. Banyak pengalaman yang mereka tulis dalam sejumlah buku untuk mengenang betapa menyenangkannya duduk di atas “si roda besi” sambil menikmati pemandangan kota, sawah dan pegunungan waktu itu.

Thomas H. Reid dalam buku yang ditulisnya, “Across the Equator” (1908), mengutip pengalaman temannya yang pernah menumpang kereta api dari Semarang ke Yogyakarta sebagai berikut:

“Perjalanan dari Samarang ke Djocjakarta biasanya ditempuh melalui Solo(Soerakarta), tapi rute ini biasa-biasa saja karena cuma melintasi dataran rendah yang dipenuhi persawahan. Aku menyarankan rute yang lebih menarik melalui (benteng) Willem I.  Ada kereta yang berangkat pukul 5.57 atau 8.17 pagi dan sampai di Djocja pukul 2.16 atau 5.10 sore.  Kereta yang berangkat pukul 10.50 cuma sampai Magelang, jadi akhirnya aku menumpang kereta yang berangkat pukul 2.9 siang, dan setelah sampai di stasiun Kedoeng Djattie, kami pun pindah ke kereta lain. Selama dua jam berikutnya, kereta melintasi kaki-kaki bukit, hutan dan padang rumput yang indah, silih berganti dengan pemandangan lembah, sawah dan bukit-bukit di kejauhan saat kereta merayap naik ke Willem I.  Tempat ini kami capai pada pukul 5 sore, dimana kami bisa merasakan sejuknya semilir angin dan menikmati keindahan alam serta matahari terbenam di gunung kecil di depan hotel.

“Keesokan harinya pada pukul 8.54, aku ikut kereta api yang berangkat dari Semarang pukul 5.57 dan tak lama kemudian sampai di sebuah stasiun dimana lokomotifnya ditukar dengan loko cog-wheel karena daerah yang akan kami lewati nanti terlalu berat bagi loko biasa. Kereta kemudian berjalan lagi memutari bukit-bukit yang dipenuhi ladang hingga ke puncaknya. Kereta pun terus naik ke atas hingga kami bisa merasakan udara yang sangat menyegarkan. Tiffin (makan siang) harus dipesan melalui kondektur sebelumnya dan akan diantarkan ke gerbong.

“Kira-kira pukul satu siang loko kereta diganti lagi, dan perjalanan ke Djocja pun dimulai melalui Magelang. Bagi mereka yang ingin mengunjungi Samarang, aku sangat menyarankan rute ini.”

Lain Belanda, lain pula Jepang. Saat Indonesia diduduki oleh Negeri Matahari Terbit itu, perkeretapian kita ikut mengalami dampak buruknya.  Batang-batang rel sepanjang 901 km dibongkar lalu dipindahkan ke Burma.  Untungnya pendudukan Jepang tidak berlangsung lama. Pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945, para karyawan kereta api mengambil alih kuasa perkeretaapian dari tangan Jepang pada 28 September 1945. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Kereta Api di Indonesia.

Foto: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT)

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://tempodoeloe.com/2011/09/27/naik-kereta-api-tut-tut-tut/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: