Tawanan Belanda di Kamp Jepang

Saat Jepang mengambil alih kekuasaan Hindia Belanda pada bulan Maret 1942, kehidupan orang-orang Eropa di Batavia berubah drastis. Semua laki-laki keturunan Eropa yang berumur di atas 12 tahun dikirim ke kamp-kamp tawanan perang, meninggalkan perempuan dan anak-anak mereka di rumah.

(lebih…)

Iklan

Kisah Berretty, taipan media dari Batavia

D.W. Berretty (sjoerdm.dds.nl)

Tak banyak orang tahu bahwa sejarah pers Indonesia sempat mencatat kiprah seorang blasteran bernama Dominique W. Berretty. Lelaki flamboyan ini sukses menguasai jalur penyebaran informasi di Batavia sebelum tewas mengenaskan pada 1934. Sebuah kurun waktu yang singkat namun menyimpan sisi dramatis dalam karier dan kehidupan pribadinya.

(lebih…)

Hotel des Indes, ikon Batavia

Hotel des Indes 1931

“Hotel des Indes benar-benar nyaman. Setiap tamu mendapat ruang duduk dan kamar tidur yang menghadap beranda, dimana mereka dapat menikmati secangkir kopi di pagi hari dan teh di sore hari. Di tengah bangunan hotel yang terbuka terdapat beberapa kolam pemandian yang bisa digunakan kapan saja.  Sarapan disajikan secara prasmanan pada jam sepuluh pagi dan makan malamnya pada jam enam sore. Semua kenikmatan itu dapat diperoleh setiap tamu dengan biaya yang terjangkau. “ (lebih…)

Petualangan cinta si Opa Matjan

D.F.F. Pinket van Haak

D.F.F. Pinket van Haak 1824 (Flickr.com)

Belanda memang sangat jauh dari Indonesia. Waktu negeri kita menjadi wilayah kolonial mereka, sangat sedikit perempuan Belanda totok yang datang dan tinggal di Hindia Belanda. Akibatnya, orang-orang Belanda yang masih membujang kesulitan untuk mendapatkan pasangan sebangsa sehingga mereka melirik perempuan-perempuan asli Indonesia.

(lebih…)

Published in: on 21/09/2011 at 10:28  Comments (1)  
Tags: , , , ,

Kontrak kerja Hans Dokkum

contract aneta

Kontra kerja penunjukkan Dokkum sebagai sekretaris Berretty.

Hans Dokkum (lihat Jalan-jalan di Passer Baroe) lahir di Amsterdam, 21 September 1905.  Dokkum sangat akrab dengan ayahnya, komposer musik Cees Dokkum (1876-1971). Sejak kedatangannya di Hindia Belanda pada akhir tahun 1928, keduanya saling berkabar melalui surat.  Dalam periode 1928-1938, Hans mengirimkan lebih dari 140 surat kepada ayahnya. Surat-surat ini masih disimpan dengan baik oleh keluarganya.

(lebih…)